“Latihan jasmani terbatas gunanya, tetapi kesalehan itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”
(1Timotius 4:8)
Penciptaan Tubuh Manusia
Dalam Alkitab, terdapat kisah tentang penciptaan manusia. Kejadian 2:7 menggambarkan Allah menciptakan manusia dari debu tanah, dan mengembuskan napas kehidupan kepadanya. Tubuh manusia adalah hasil rancangan Allah sendiri. Kejadian 1:27 menegaskan, manusia diciptakan sebagai gambaran Allah, sehingga tubuh manusia memiliki nilai yang luar biasa. Memahami semua ini, memotivasi kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah, merawat tubuh kita dengan baik, dan menggunakan tubuh kita sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.
Di jalan raya, ada rambu-rambu lalu lintas yang perlu ditaati, agar tidak terjadi kecelakaan. Demikian pula dengan tubuh manusia. Menurut penelitian para ahli, dalam tubuh kita ada jam biologis. Ada jam istirahat, ada pula jam produktif. Tidak baik jika tubuh dipaksa bekerja terus-menerus, tanpa memberikan istirahat. Seperti peralatan elektronik yang ada masa hidupnya, demikian juga hidup kita. Galatia 6:7-10 menyatakan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Setiap tindakan yang kita lakukan memiliki konsekuensi, baik positif maupun negatif. Dalam bertindak, kita harus memastikan bahwa kita telah melakukan yang terbaik untuk diri kita sendiri dan orang lain. Kesehatan yang dipupuk akan membuahkan kehidupan yang sehat. Kesehatan yang tidak dijaga akan berdampak buruk bagi tubuh dan memengaruhi aspek kehidupan lainnya.
Ada beberapa aspek kesehatan yang perlu kita perhatikan:
Pertama, tubuh yang sehat. Tubuh yang sehat, fit, dan segar memiliki daya tahan yang baik, tidak mudah lelah, memiliki berat dan tinggi yang ideal, rambut dan kuku tumbuh dengan normal, memiliki produktivitas kerja yang normal, tidak ada gangguan atau penyakit, dan dapat menjalani aktivitas dengan baik dan normal. Untuk mencapai kebugaran jasmani, Anda dapat melakukan aktivitas fisik yang mengeluarkan energi, seperti senam, yoga, lari, berjalan, bersepeda, dan olahraga lainnya. Selain itu, Anda juga perlu memperhatikan unsur-unsur dalam kebugaran jasmani, seperti kekuatan otot, daya tahan jantung dan pernapasan, serta fleksibilitas tubuh.
Kedua, mental yang sehat. Seseorang dapat dikatakan sehat secara mental ketika ia merasa sejahtera, baik secara psikologis, emosional, maupun sosial. Kesehatan mental memengaruhi caranya berpikir, merasa, bertindak, membuat keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Ketiga, moral yang sehat. Menurut https://www.alodokter.com/cari-tahu-informasi-seputar-kesehatan-mental-di-sini (2025), moral yang sehat dapat membantu menjaga kesehatan mental dan emosional seseorang. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, seperti menghargai diri sendiri, mengelola stres dengan baik, mengakui perasaan dan emosi negatif, menetapkan tujuan yang realistis, dan merawat tubuh dengan baik. Dalamhttps://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/pendidikan-karakter-anak/, Atifa Adlina (2021) menyatakan, pendidikan karakter seperti mengembangkan sifat toleran, disiplin, kreatif, mandiri, menghargai prestasi, peduli lingkungan, peduli sosial, dan demokratis juga dapat membentuk etika moral yang sehat.
Keempat, kognisi yang sehat, artinya memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang normal. Seseorang dianggap sehat bila ia tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti tegang, lelah, cemas, yang dapat menimbulkan perasaan sakit, atau mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari.
Kelima, afeksi/perasaan yang sehat. Menurut Sereliciouz (2021) dalam https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/afektif/, afeksi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap, watak, perilaku, minat, emosi, dan nilai yang ada di dalam diri setiap individu. Afeksi ini erat kaitannya dengan kognisi. Pengetahuan/kognisi akan memengaruhi perilaku seseorang. Afeksi yang sehat bisa membuat seseorang menjadi lebih baik dalam mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, dan meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Untuk mengembangkan afeksi yang sehat, kita perlu belajar berempati. Menurut Satria Aji Purwoko (2023) dalam https://hellosehat.com/mental/empati/, ada beberapa ciri seseorang yang memiliki empati yang tinggi, di antaranya selalu terbuka dan bersikap welas asih kepada orang lain, sensitif terhadap perubahan emosional dan bahasa tubuh orang lain, mampu mendengarkan dengan baik, dan selalu memberikan perhatian penuh.
Keenam, sehat secara psikomotorik. Menurut Ihda Fadila (2024) dalam https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/perkembangan-psikomotorik/, kemampuan psikomotorik adalah kemampuan seseorang mengontrol gerakan-gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara sistem saraf pusat dan otot. Kemampuan ini terus berkembang sejak usia dini, mengikuti kematangan serta perkembangan otak dan sumsum tulang belakang anak. Kemampuan psikomotorik bisa memengaruhi kemampuan emosional dan sosial anak pula. Orang tua perlu memperhatikan perkembangan psikomotorik anak sejak bayi baru lahir hingga masa remaja. Namun, perkembangan ini perlu dioptimalkan pada masa keemasan atau golden age.
Ketujuh, sehat secara sosial. Seseorang yang sehat secara sosial mampu berhubungan secara baik dengan orang lain; atau mampu berinteraksi dengan orang atau kelompok lain, tanpa membeda-bedakan ras, suku, agama, atau kepercayaan, status sosial, ekonomi, ataupun sikap politiknya; mampu bertoleransi dan menghargai orang lain. Kesehatan sosial adalah gambaran hubungan seseorang dengan orang lain, lingkungan, dan komunitasnya.
Kedelapan, sehat secara ekonomi. Dalam menjaga kesehatan tubuh, tentu diperlukan biaya, karenanya kesehatan ekonomi pun perlu dijaga.
Kesembilan, kesehatan spiritual, melingkupi kesadaran perjumpaan dengan kemahakaryaan Tuhan, baik secara personal maupun komunal, secara supranatural maupun natural. Perjumpaan ini kiranya mampu menjadikan diri kita eling dan waspada, serta terwujud dalam perbuatan dan buah roh yang baik dan berkualitas.
Berikut ini ada beberapa tokoh Alkitab yang dapat kita jadikan teladan dalam memelihara dan mengembangkan kesehatan jiwa:
Pertama, kita belajar dari Timotius. Timotius tumbuh besar di kota Listra, anak seorang wanita Yahudi bernama Eunike, yang adalah seorang percaya. Ayahnya berkebangsaan Yunani (bukan Yahudi), yang tidak disebutkan namanya. Timotius tumbuh besar dalam pengenalan akan Allah dan Kitab Suci sejak usia dini, yang berujung pada keselamatannya. Ia menggunakan seluruh hidupnya untuk bekerja dalam pelayanan. Pada tahun-tahun awal pelayanannya, ia menjalani hidup yang keras bersama Paulus, pergi dari satu kota ke kota lainnya. Jika Anda mengikuti kehidupan Timotius, Anda akan menemukan, ia adalah seseorang yang sangat berdedikasi dalam pelayanan. Melalui kehidupan pelayanannya, ia terlatih secara badani maupun karakter.
Kedua, kita dapat belajar dari Rut. Kitab Rut menceritakan kehidupannya yang dipenuhi kasih, dan buah yang dihasilkan oleh kasih itu. Kitab Rut mengajarkan, Allah itu setia, selalu memperhatikan dan memelihara kehidupan anak-anak-Nya. Kita pun menemukan keindahan jiwa dalam bentuk welas asih pada diri Naomi yang lemah, bahwa Tuhan tidak menutup mata terhadap doa mereka. Boas hadir sebagai penebus yang taat, bersedia dipakai Tuhan sebagai alat pemelihara sesamanya.
Ketiga, mari belajar dari Paulus. Paulus adalah seorang rasul yang sangat penting dalam sejarah kekristenan. Paulus sadar betul, ia dapat melayani hanya karena maksud dan kasih karunia Tuhan, agar rahmat Tuhan dalam Kristus Yesus dapat dinyatakan kepada dunia. Sebab itu, ia selalu membawa setiap pekerjaannya, orang-orang yang ia layani, dan rekan-rekan pelayanannya dalam doa. Paulus juga menunjukkan ketekunan yang luar biasa dalam melayani Tuhan. Ia tidak menjadi tawar hati ketika menghadapi berbagai masalah yang menghadang, tidak hanya bersemangat di awal, lalu kehilangan optimisme dalam proses yang sulit. Ia tidak pernah menyerah, dan terus berjuang memenuhi panggilannya. Ia sangat giat bekerja, giat belajar, dan mengajarkan firman Tuhan. Tindakannya berpadanan dengan perkataannya. Integritas Paulus mengingatkan kita untuk mengevaluasi diri, apakah perkataan dan tindakan kita sudah selaras? Ketika kita hanya bisa bicara, tetapi tidak melakukan tindakan nyata, kita tidak akan mencapai apa-apa, apalagi menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak kita. Pengharapan Paulus di dalam Pribadi Allah yang tidak berubah, kebangkitan Kristus yang menyelamatkan setiap orang percaya, dan janji Tuhan yang akan menyediakan upah pada waktu-Nya, mengingatkan kita untuk juga memiliki pengharapan yang kuat dalam Tuhan.
Kita semua adalah tokoh yang mengisi zaman dengan kesaksian iman, pengharapan, dan kasih. Hendaknya pencapaian kita tidak menjadikan kita bermegah selain di dalam Kristus. Semua proses pertumbuhan, pergumulan, jatuh-bangun, akan berbicara sesuai konteks waktu dan situasi/kondisi. Allah bekerja sesuai dengan maksud dan tujuan-Nya, tidak dapat disamaratakan untuk semua orang. Jangan membatasi kuasa karya-Nya yang ajaib dan mampu mengubahkan ke arah yang lebih baik.
Kesehatan luar dan dalam saling memengaruhi (mens sana in corpore sano, artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat). Implikasinya, kita harus memelihara tubuh jasmaniah (berolahraga, istirahat yang cukup, dan makan makanan yang bergizi) dan rohaniah (membaca Alkitab, beribadah, dan melayani), karena tubuh kita adalah bait Allah, yang selayaknya digunakan untuk memuliakan (1Kor.6:19-20) dan menjadi alat untuk melayani Dia (Rm.12:1-2). Allah menghendaki setiap orang Kristen untuk menjaga kesehatan secara rohani dan jasmani. Allah tidak meminta agar kita kita memilih salah satu di antara keduanya, melainkan Allah menghendaki agar kita menjaga keduanya. Namun, jika keduanya berbenturan, kita harus lebih mengutamakan kesehatan batiniah. First thing first! Keterbatasan fisik tidak akan menjadi penghalang untuk tetap berfungsi sebagai anak-anak Tuhan, jika kerohanian kita tetap bersih dan sehat. Mari melakukan segala sesuatunya sebagai bentuk ibadah kita terhadap Tuhan! Ora et labora!
Mari gunakan kecerdasan majemuk secara kreatif untuk meningkatkan kesehatan di dalam, sehingga dapat tampil segar di luar. Taatilah rambu-rambu kehidupan, seperti yang telah kita pelajari sejak kecil (makan 4 sehat 5 sempurna; memahami serta menerapkan rumus 888-333, yaitu 8 jam untuk bekerja keras dan cerdas, 8 jam untuk tidur, 8 jam sisanya untuk 3F, 3H, 3S dengan seimbang. Yang dimaksud dengan 3F adalah family/kehidupan keluarga, friends/teman, faith/iman. Sedangkan 3H adalah health, hygiene, dan hobby. Yang dimaksud dengan 3S adalah smile/tersenyum dan bersyukur, soul/menjaga kesehatan jiwa, service/ berkarya positif bagi diri dan orang lain). Mari menjadi pribadi yang otentik, jujur dan tulus agar memiliki HB4, yaitu handsome, beauty, brain, brave, dan behaviour. Hidup ini adalah sebuah proses. Dalam proses itu, kita mengalami jatuh-bangun, hingga kelak Ia menjemput kita.
*Materi ini pernah dibawakan dalam acara Temu Guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.
**Penulis adalah seorang konselor dan Pemimpin Redaksi Majalah Sepercik Anugerah dan Website GKI Gading Serpong untuk tahun pelayanan 2024-2029.
Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23