Prof. Yusak Siahaan Senin, 15 September 2025, mulai pukul 21.00–21.30, tim Sepercik Anugerah (SA) melakukan wawancara singkat terhadap Prof. Yusak Siahaan (Y) secara daring. Prof. Dr. dr. Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp.N(K), FIPP, CIPS adalah seorang dokter spesialis saraf (neurolog) yang menolong pasien dengan keluhan pada sistem saraf, dan berpraktik di Siloam Hospital Lippo Village, Karawaci. Sebagai seorang ahli di bidang neurologi yang memiliki gelar guru besar, Prof. Yusak mengajar sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH). Selain itu, beliau juga aktif melayani masyarakat yang kurang mampu.

Prof. Yusak lahir di Cirebon pada 20 November 1967 dari pasangan Muller Siahaan dan Herlina Panjaitan. Istrinya, Maria Irawati Simanjutak, bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi di RSUD Tarakan Jakarta dan Siloam Hospital Lippo Village, Karawaci. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai dua orang putra. Anak pertama, Henoch Gugun Parulian Siahaan, lahir tahun 1997, berprofesi sebagai dokter umum, dan saat ini sedang mempersiapkan diri untuk studi lanjutan. Anak kedua, Rudolph Yeremia Hamonangan Siahaan, lahir tahun 2002, sekarang sedang menyelesaikan S-2 nya di Wageningen University, Belanda, di bidang food technology.

SA: Mengapa Prof. Yusak bercita-cita menjadi seorang dokter?

Y: Cita-cita itu Tuhan tanamkan dalam diri saya. Sejak SMA, saya sudah memilih dan memikirkan untuk menjadi seorang dokter. Kemudian, lebih berkembang ketika sudah mulai kuliah kedokteran, dan juga didukung oleh ibu saya, yang seorang bidan, sehingga makin mempertajam keinginan saya tersebut.

SA: Apakah ada hambatan atau halangan, ketika ingin menjadi seorang dokter?

Y: Hambatan tidak ada, karena orang tua mendukung. Walaupun saya tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri, itu bukanlah suatu hambatan. Sebab, Tuhan memberikan yang terbaik kepada saya, dengan berkuliah di perguruan tinggi swasta. Saya kuliah S-1 di Universitas Trisakti, lulus tahun 1994, lalu S-2 di Universitas Diponegoro dalam bidang neurologi, lulus tahun 2002, dan S-3 di Universitas Gadjah Mada, lulus tahun 2013.

SA: Mengapa mengambil spesialisasi di bidang neurologi?

Y: Ada dua hal yang mendorong saya memilih jurusan neurologi. Pertama, pada waktu bertugas di Puskesmas Kabupaten Sintang, Kalimatan Barat, keberadaan dokter spesialis neurologi masih sedikit. Dalam radius satu provinsi, hanya ada dua orang dokter spesialis di Pontianak. Hal itu, membuat saya berencana untuk kembali ke Kalimantan. Kedua, saat itu orang tua saya mengalami strok. Jadi, dua hal tersebut memotivasi saya untuk belajar ilmu saraf dan mengambil spesialis neurologi.

SA: Prof. Yusak praktik di mana, dan mengapa di situ?

Y: Saya bekerja full time di Rumah Sakit Siloam Karawaci sebagai dokter saraf, dan juga sebagai dosen di Universitas Pelita Harapan. Selain itu, saya bekerja part time di Rumah Sakit Bethesda Serukam, Kalimantan Barat. Semua pekerjaan itu, hanya karena pimpinan Tuhan. Sebelumnya, saya sudah mendaftar di beberapa tempat, tetapi tidak diterima. Setelah mengirim lamaran yang kesepuluh, Tuhan memberi pekerjaan di Rumah Sakit Siloam, dan juga di fakultas kedokteran UPH, mulai tahun 2002 sampai sekarang.

SA: Selain melayani di Rumah Sakit Siloam dan mengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH), apakah Prof. Yusak ada pelayanan kesehatan secara rutin di tempat lain? Mengapa melayani di sana?

Y: Saya bekerja, lebih tepatnya melayani di Rumah Sakit Bethesda Serukam, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Saya berada di sana, karena visi saya memang untuk melayani orang-orang marginal, yang tidak mampu, dan orang-orang di daerah yang memerlukan pelayanan dokter spesialis saraf. Di rumah sakit misi itu, saya bisa memberi pengobatan penyakit saraf kepada masyarakat di sekitar Kabupaten Bengkayang. Berhubung di sana tidak ada dokter saraf, saya merasa, ini adalah panggilan Tuhan bagi saya, untuk melayani di tempat tersebut.

SA: Setiap berapa bulankah pelayanan ke Kalimantan dilakukan?

Y: Setiap satu bulan sekali saya memberikan pelayanan di Kalimantan Barat.

SA: Sejak kapan memperoleh gelar profesor, dan mengapa tertarik dengan intervensi rasa nyeri pada pasien kanker?

Y: Saya menerima gelar profesor pada tahun 2023. Saya tertarik pada bidang manajemen intervensi, karena kasus-kasus nyeri pada kanker tidak bisa diobati dengan obat-obatan biasa. Jadi, memerlukan suatu penanganan yang khusus. Itulah sebabnya, saya mengambil spesialisasi di bidang intervensi nyeri, supaya orang-orang yang menderita nyeri, yang tidak bisa diredakan dengan obat-obatan, bisa ditolong dengan menggunakan intervensi ini. Lalu, mengapa kanker? Sebab, salah satu nyeri yang terhebat adalah nyeri kanker, sehingga dengan apa yang saya pelajari, saya bisa menolong banyak penderita kanker, terutama untuk mengatasi rasa nyeri yang sangat hebat itu.

SA: Mengapa bergereja di GKI Gading Serpong?

Y: Sejak kecil, saya dibaptis dan sidi di GKI Pengampon, Cirebon. Waktu itu, saya dibaptis oleh Pdt. Gideon Karyadi Dwidjopramono. Kemudian, pada tahun 2005, saya pindah ke wilayah Serpong. Jadi, saya mencari lokasi gereja yang paling dekat, dan akhirnya memilih bergereja di GKI Gading Serpong sampai sekarang.

SA: Selama menjadi anggota GKI Gading Serpong, pelayanan apa saja yang pernah dokter Yusak ikuti?

Y: Saya hanya ikut pelayanan vokal grup Narwastu sejak sekitar tahun 2008. Waktu itu, tempat ibadahnya masih di gedung SMPK Penabur.

SA: Apakah ada rencana jangka pendek dalam pelayanan, selain di Narwastu?

Y: Panggilan pelayanan saya banyak di luar gereja. Kami punya yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat di area marginal, di daerah pedalaman. Kami sudah melayani di tiga tempat, yaitu Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, lalu Nusa Tenggara Barat (NTT), dan Tangerang. Pelayanan kami memang lebih banyak di tempat tersebut, sehingga hari Sabtu dan Minggu, kami sering melakukan pelayanan di luar kota. Memang untuk mengambil/menjalani komitmen itu sulit, kecuali suatu saat Tuhan memanggil saya untuk pelayanan lainnya di gereja, maka akan saya lakukan.

SA: Apakah ada harapan yang belum tercapai atau ada rencana jangka panjang untuk pelayanan di lingkungan gereja?

Y: Sebenarnya, visi saya ke depan adalah, pelayanan kesehatan gereja bisa menjangkau orang-orang marginal, yang tersisihkan atau tersingkirkan. Untuk itu, menurut pandangan dan saran saya, sebaiknya gereja mau menjalin hubungan dengan pelayanan kesehatan, bukan hanya klinik. Akan tetapi, bagaimana membangun kesehatan, misalnya tentang gizi buruk, TBC, dan penyakit tertentu lainnya yang ada di daerah-daerah terpencil. Selanjutnya, membentuk suatu daerah binaan untuk orang-orang dan masyarakat yang menderita sakit atau mengalami gizi buruk, dalam periode tertentu. Jadi, untuk rencana jangka panjang, saya berharap, suatu saat hal itu bisa dilakukan oleh gereja kita. Pelayanan kesehatan memang sudah dilakukan, tetapi alangkah baiknya kalau gereja kita bisa menjalankan seperti yang saya sebutkan tadi, yaitu mengambil suatu desa binaan di daerah miskin yang memiliki riwayat gizi buruk dan tingkat penularan TBC yang tinggi. Kita membina masyarakatnya, sehingga mereka bisa hidup sehat.

SA: Semoga tercapai ya, Pak Dokter. Sebab, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan.

Y: Iya, itu maksud saya.

SA: Apalagi untuk penyakit kulit ya, Pak Dokter?

Y: Nah, itu salah satu contohnya. Misalnya, di daerah yang banyak penderita penyakit kulit, kita sebagai gereja dan tim kesehatan, membina dan melayani komunitas itu. Kita datang, bukan sekadar mengobati penyakitnya, tetapi kita juga menanyakan penyebabnya, sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan tuntas.

SA: Apakah maksudnya gereja mengadakan pemeriksaan kesehatan, satu kali atau dua kali dalam setahun?

Y: Bukan hanya satu kali atau dua kali, tetapi kita perlu menempatkan orang di daerah tersebut, yang bertugas untuk menjaga kesehatan dan melakukan penyuluhan. Lalu, mengapa mereka terkena penyakit kulit? Sebab mereka miskin. Jadi, kita membantu supaya mereka bebas dan tidak terpuruk dalam kemiskinan, yang saya sebut sebagai kemiskinan holistik.

SA: Pengalaman apa yang paling berkesan sepanjang melayani sebagai dokter?

Y: Yang berkesan adalah, ilmu yang kita miliki bisa diterapkan dan dinikmati oleh orang-orang dari semua lapisan. Saya bersyukur, ilmu yang saya pelajari tidak hanya dibagikan kepada masyarakat kota, tetapi juga masyarakat desa, khususnya tempat saya melayani di Kalimantan. Jadi, orang-orang desa itu bisa menikmati ilmu yang Tuhan berikan kepada manusia, supaya mereka pun boleh merasakan kebaikan Tuhan. Saya juga senang sekali diberi kesempatan untuk mengobati mereka. Tentu saja, saya merasa bahagia, kalau mereka akhirnya bisa sembuh, dan boleh mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pelayanan kesehatan yang bagus, bukan hanya apa adanya, tetapi harus benar-benar bagus, sehingga semua orang dapat merasakan kebaikan Tuhan, melalui ilmu kesehatan yang modern dan baru.

SA: Adakah pesan yang ingin disampaikan kepada jemaat GKI Gading Serpong?

Y: Saya mengajak anggota jemaat GKI Gading Serpong untuk mau terlibat melayani di luar, yaitu kepada masyarakat di sekitar gereja maupun sekitar rumah kita. Kita harus semakin banyak memperhatikan orang-orang yang memerlukan bantuan kita. Untuk itu, melalui jemaat GKI Gading Serpong yang diberkati Tuhan, marilah kita menjadi jembatan kasih Tuhan dengan bersama-sama menolong mereka, supaya mereka boleh merasakan kerajaan Allah yang sudah datang.

SA: Bagaimana Prof. Yusak mengimplementasikan ajaran kasih dari Kristus dalam profesi sehari-hari di rumah sakit?

Y: Kita melayani pasien tanpa melihat latar belakangnya, misalnya ini orang Kristen atau bukan, satu suku atau tidak, orang mampu atau tidak. Kita harus melihat, semua adalah orang-orang yang sedang memerlukan pertolongan, dan kita menjadi jembatan kasih Tuhan kepada mereka. Oleh karena itu, kita harus menolong dengan sebaik-baiknya, setulus hati dan segenap kemampuan kita. Hal terbaik yang bisa kita berikan adalah kasih kita kepada mereka, baik yang ada di kota maupun di desa. Dengan memberikan ilmu/kemampuan kita yang terbaik, yang kita punya, dan melakukannya dengan setulus hati, mereka akhirnya dapat merasakan, bukan hanya sembuh secara fisik, tetapi juga sembuh secara hati. Sebab, orang yang sakit pasti mengalami gangguan psikis, depresi, stres, dan sebagainya. Jadi, kita menolong mereka, baik secara fisik maupun psikis.

SA: Apakah ada pesan dan harapan yang ingin Dokter sampaikan kepada kolega yang seiman, agar dapat memancarkan kasih Kristus dalam pekerjaan mereka sehari-hari?

Y: Pesan saya, jadilah dokter yang terbaik, pintar dan kompeten, supaya bisa melayani pasien kita. Selain itu, marilah kita bersama-sama melayani dengan hati, seperti Kristus. Kita melayani pasien tanpa memandang latar belakangnya, sehingga mereka boleh melihat Tuhan dalam pelayanan kesehatan kita, bukan dokternya. Tuhanlah yang menolong dan memampukan kita, sehingga ketika para pasien meminta tolong, mereka merasa bersyukur, karena boleh berjumpa dengan Tuhan melalui pelayanan dan hidup kita. Ayo, belajar sebaik-baiknya, setinggi-tingginya, dan benar-benar kompeten, supaya kita bisa memberikan yang terbaik kepada pasien kita!

SA: Apa saja prestasi di bidang kesehatan yang telah dicapai oleh Prof. Yusak?

Y: Dalam hal prestasi kesehatan, belum pernah ada. Memang saya yang pertama kali membuka keahlian dalam bidang saraf di UPH, tetapi prestasi seperti penghargaan, belum pernah saya terima, kecuali yang dahulu saya dapatkan dari publik, pada waktu di Kalimantan Barat. Sedangkan yang lainnya, tidak ada, hanya dari Tuhan.

SA: Apakah ada literatur/literasi yang diterbitkan?

Y: Sebagai guru besar, saya harus mempunyai buku yang diterbitkan untuk membantu mahasiswa. Jadi, ada lima atau enam buku neurologi untuk mahasiswa fakultas kedokteran.

Setelah perbincangan selesai, wawancara ditutup dalam doa yang dipimpin oleh Elvier Christanty.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23