Tahun baru Imlek, bagi jemaat usindah etnis Tionghoa, dimaknai sebagai perayaan budaya leluhur dan momen pengucapan syukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan sepanjang tahun, serta momen mempererat hubungan antarkeluarga. Tahun ini, Persekutuan Imlek Komisi Usindah GKI Gading Serpong diadakan pada 25 Februari 2026. Persekutuan Imlek merupakan salah satu persekutuan yang dinanti-nantikan jemaat usindah, karena setelah persekutuan rutin, acara dilanjutkan dengan perayaan Imlek yang penuh sukacita. Jemaat ikut berpartisipasi dalam perayaan ini.

Di pagi yang cerah itu, sejak pukul 8.00, pengurus dan aktivis sudah mulai berdatangan, untuk mempersiapkan segala sesuatu yang masih diperlukan. Nuansa merah dan dekorasi Imlek yang indah, yang sudah dipersiapkan pengurus seminggu sebelumnya, serta penambahan photo booth untuk jemaat, menambah semarak suasana Imlek di Aula Kana, Griya Kasih, jl. Kelapa Gading Barat Blok AG 15 No 16, Pakulonan Barat, Kelapa Dua, Tangerang.

Sejak pukul 9.00, jemaat mulai berdatangan, dengan dress code yang disarankan pengurus, yaitu baju cheongsam/bernuansa Imlek bagi yang memilikinya. Pengurus menyalami jemaat yang berdatangan dan mengucapkan “Gong Xi, Gong Xi!” Terlihat juga jemaat saling bersalaman sambil mengucapkan “Selamat Tahun Baru Imlek!” Beberapa jemaat berfoto bersama di photo booth yang disediakan.

Pukul 10.00 tepat, dengan dihadiri 170 jemaat, persekutuan dimulai dengan menyanyikan “Mars Usindah”. Paduan suara Nafiri mempersembahkan lagu “Bahagia dalam Tuhan” versi Mandarin dan Indonesia, menambah suasana Imlek menjadi lebih meriah.

Firman Tuhan dibawakan Gerrald Michael, dengan tema “Pendengar atau Pelaku Firman”, dari Yakobus 1:19–27, mempertanyakan apakah kita sudah menjadi pelaku firman atau baru sebagai pendengar saja? Firman Tuhan bagaikan cermin untuk memeriksa diri. Saat melihat cermin dan mendapati ada yang tidak beres, kita akan memperbaiknya. Demikian juga, saat mendengar firman Tuhan di kebaktian/persekutuan, dan kita mengatakan bahwa firman tersebut bagus, sangat membekali, tetapi kita tidak menjalankannya, dan tidak berusaha memperbaiki cara hidup kita yang belum sesuai, berarti kita hanyalah seorang pendengar.

Menjadi pelaku firman Tuhan memang tidak mudah, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Bagi jemaat usindah, untuk menjadi pelaku firman, bisa dilakukan dengan cara seperti mengendalikan lidah, lambat marah, serta mengucapkan kata-kata yang membangun buat keluarga, mendoakan anak cucu kita tanpa henti, mengampuni orang yang bersalah di masa lalu, memberikan kesaksian hidup yang dapat menjadi teladan bagi anak cucu, dll.

Yakobus mengatakan, pelaku firman Tuhan akan berbahagia (Yakobus 1:25). Ayat emas diambil dari Lukas 11:28b. Persekutuan ditutup dengan doa berkat oleh Gerrald, kader pendeta GKI, yang hari itu terakhir kali bertugas di GKI Gading Serpong.

Perayaan Imlek dimulai dengan lagu “Lai, Lai, Lai, Wo Men Quo Xin Nian”, yang dinyanyikan Gerrald dengan baik, disertai penari pengiring dari jemaat usindah. Jemaat diajak untuk ikut menyanyi. Sebelumnya, lagu tersebut sudah diperkenalkan kepada jemaat. Pembawa acara, Julianti Tan dan Irawan Rudyanto menambah meriah suasana perayan Imlek. Persembahan pujian “Seperti Rusa Rindu Sungai-Mu”, yang dinyanyikan oleh vocal group Anugerah dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, mengajak jemaat mensyukuri berkat dan penyertaan Tuhan sepanjang tahun. Acara dilanjutkan persembahan tarian oleh Heliana Halimin (Oca) dan teman-teman, yang masih dapat menari dengan lincah, meskipun sudah lansia.

Setelah itu, ada acara yang sudah sangat dinantikan oleh jemaat usindah, yaitu fashion show. Jemaat yang ikut berpartisipasi dalam acara fashion show ini ada 25 orang oma dan 1 orang opa, yaitu Opa Nagaidup Napitu. Diharapkan, di acara mendatang, akan ada lebih banyak opa yang ikut berpartisipasi.

Satu per satu, peserta fashion show melenggang lenggok dengan gaya yang gemulai dan kocak, dengan aksesori yang mereka pakai, seperti kipas, payung, topi, kacamata, dll. Beberapa kali terlontar candaan dari pembawa acara, yang menyebut mereka berasal dari Hongkong, Taiwan, Beijing, dan beberapa kota di Tiongkok, menambah suasana makin meriah dan membuat jemaat tertawa terpingkal-pingkal. Juri pun kesulitan menentukan pemenang, karena semua peserta pandai bergaya bak peragawati.

Acara dari jemaat untuk jemaat memang diadakan oleh pengurus sebagai variasi dari persekutuan rutin, supaya jemaat merasakan sukacita dan dapat berpartisipasi dalam kebersamaan ini. Sedangkan, persekutuan rutin membekali jemaat dengan firman Tuhan, agar jemaat siap, bila sewaktu-waktu Tuhan memanggil kembali ke rumah Tuhan.

Acara ditutup dengan doa oleh Pdt. Erma Primastuti Kristiyono. Jemaat mendapat berkat sewaktu pulang, sebab ada beberapa persembahan kasih dari jemaat untuk jemaat pada perayaan Imlek ini.

Terima kasih Tuhan, atas kebersamaan yang Kau izinkan ini, yang membawa suasana kekeluargaan dan sukacita, baik bagi pengurus maupun jemaat usindah GKI Gading Serpong. Amin.