Persekutuan Dewasa GKI Gading Serpong pada Kamis, 22 Januari 2026, pukul 10.00–12.30 diwarnai dengan hujan yang sudah turun sejak dini hari. Terkadang gerimis halus, sebentar kemudian deras, mereda, kemudian deras kembali. Dalam persekutuan kali ini, anggota jemaat yang hadir mencapai 70 orang, yang disambut dengan hangat oleh Lasma Situmorang dan Rebekka selaku usher.
Acara persekutuan kali ini terlihat berbeda. Meja dan tempat duduk diatur sedemikian rupa, agar nantinya memudahkan tiap kelompok saat menghias cupcake. Untuk setiap kelompok disediakan satu buah meja. Total ada tujuh kelompok yang masing-masing terdiri dari delapan hingga sembilan orang.
Susilawati, yang melayani sebagai pemimpin pujian, mengawali persekutuan dengan mengajak seluruh anggota jemaat menyanyikan lagu “Segala Puji Syukur” dengan ayat pembuka yang terambil dari Yesaya 58:11. Lesty Daryanti Soehendra memainkan musik dengan sangat baik, membuat seluruh anggota jemaat menyanyikan pujian dengan penuh sukacita.
Sebelum mendengarkan firman Tuhan yang akan dibawakan oleh Gerrald Michael, terlebih dahulu anggota jemaat menyanyikan lagu “Tiap Langkahku Diatur oleh Tuhan”. Firman Tuhan diambil dari Rut 1:8-17. Dikisahkan, Naomi, seorang wanita Yudea dari Betlehem, istri Elimelekh yang setia. Karena bencana kelaparan, ia pindah ke Moab bersama keluarganya. Di sana, suaminya, Elimelekh, dan kedua anaknya, Mahlon dan Kilyon, meninggal. Ia pun tertinggal sendirian sebagai janda, bersama dua menantunya, Rut dan Orpa.
Mendengar kelaparan di Yehuda telah berakhir, ia memutuskan kembali. Ia sempat meminta kedua menantunya kembali ke rumah orang tua mereka. Orpa memilih untuk pulang, tetapi Rut, yang juga seorang wanita keturunan Moab, berkata, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau untuk pulang dan tidak mengikutimu. Ke mana pun engkau pergi, ke situ aku pergi. Di mana pun engkau bermalam, di situ aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. Di mana pun engkau mati, di situ aku mati dan dikuburkan. Kiranya TUHAN menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jikalau ada yang memisahkan aku dari engkau kecuali maut!" (Rut 1:16–17).
Rut tidak mengharapkan yang indah ketika ia memutuskan untuk mengikuti Naomi. Rut juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depannya. Kepercayaannya pada Allah Naomi membuatnya memilih untuk tegar melangkah dalam tuntunan Allah Naomi, meninggalkan tanah kelahirannya. Ketegaran Rut tidak lahir dari pengetahuan akan akhir cerita hidupnya, tetapi dari kesediaannya berjalan selangkah demi selangkah dalam Tuhan. Ia setia melangkah bersama Tuhan dan percaya, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya.
Sering kali, tuntunan Tuhan berkerja dalam keputusan sehari-hari yang kita ambil, bahkan melalui interaksi dengan keluarga. Gerrald Michael juga mengatakan, beriman bukanlah sejauh apa kita bisa melihat ke depan, tetapi bagaimana kita mau tetap setia melangkah, meskipun hanya satu langkah ke depan. Dengan iman itulah lahir sebuah kesetiaan. Perjalanan kehidupan kita adalah serangkaian perjalanan selangkah demi selangkah, yang kita yakin dijalani bersama Tuhan. Iman bukan soal melihat jalan yang terang sepenuhnya ke depan, tetapi satu langkah yang berani kita ambil setiap hari, bersama Allah.
Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah Rut, yaitu tegar melangkah bukan berarti selalu memilih jalan yang aman. Kesetiaan kepada Allah terwujud dalam kesetiaan kita melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita hari demi hari. Tuntunan Tuhan sering kali baru kita pahami setelah kita melewati perjalanan tersebut. Rut tidak berjalan karena masa depannya sudah jelas, tetapi karena ia memiliki sebuah komitmen, sebuah keyakinan bahwa Allah selalu menyertai. Iman yang tegar dan teguh bukanlah iman yang membebaskan kita dari rasa takut. Justru, iman yang teguh membuat kita dapat tetap menjalani kehidupan ini. Tuhan sedang menenun rencana besar-Nya dalam hidup kita tanpa menghilangkan risiko, tetapi dengan sebuah janji pemeliharaan yang tetap sama. Gerrald Michael menutup khotbah dengan mengatakan, “Tegar melangkah dalam tuntunan Tuhan berarti kita diundang untuk tetap terus berani berkata, ‘Aku tidak tahu ke mana aku akan melangkah, tetapi aku tahu dengan siapa aku berjalan.’”
Acara dilanjutkan dengan kegiatan menghias cupcake, yang dipandu oleh Herlina Oktowati dan Budi Tjandrakirana. Masing-masing anggota kelompok sudah mendapatkan satu buah cupcake untuk dihias, whipped cream, dan pernak-pernik hiasan bernuansa Imlek, yang disediakan oleh para pengurus Sie Wanita sebelum persekutuan dimulai.
Tim multimedia, yaitu Thiomina menampilkan tutorial membuat cupcake. Mulai dari bahan-bahan dan alat-alat yang dibutuhkan, serta cara membuatnya. Setelah matang, cupcake tersebut didinginkan di suhu ruang sebelum nantinya dihias. Ibu-ibu sangat antusias untuk mulai menghias. Tentunya, mereka tidak melewatkan acara ini berlalu begitu saja, tanpa berfoto ria sebelum, saat, dan setelah selesai menghias cupcake. Mereka terlihat sangat puas dengan hasil karya masing-masing.
Masing-masing kelompok kemudian memilih satu cupcake dengan hiasan terbaik dari kelompoknya, dan penghiasnya diminta maju ke depan, untuk mendapatkan hadiah yang telah disediakan. Kebahagiaan dan sukacita terpancar jelas di seluruh wajah peserta. Banyak tawa dan canda yang mengalir saat kegiatan ini berlangsung.
*Penulis adalah pengurus Sie Wanita, Komisi Dewasa GKI Gading Serpong untuk tahun kepengurusan 2023-2026.