Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 3 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-5, 15-16; 1 Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14
Setiap hari kita membuat pilihan. Pilihan bangun pagi atau tidur lagi. Pilihan sarapan atau tidak. Pilihan jalan mana yang ditempuh ke kantor. Pilihan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Sebagian pilihan tampak sepele. Namun ada satu pilihan yang paling fundamental, yang menentukan segalanya: pilihan untuk hidup beriman pada Tuhan atau tidak beriman.
Hari ini, kita dihadapkan pada empat bagian Firman Tuhan yang berbicara tentang pilihan hidup beriman. Mulai dari Stefanus yang memilih beriman sampai mati, Daud yang memilih berlindung dalam Tuhan di tengah krisis, jemaat yang dipanggil menjadi imamat rajani, hingga janji Yesus tentang rumah di surga.
1. Stefanus: Beriman Sampai Akhir (Kisah 7:55-60). Stefanus adalah diaken pertama yang juga menjadi martir pertama gereja Kristen. Ia dituduh menghujat Musa dan Allah, lalu diadili di hadapan Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin). Ketika kebenaran sedang berada di pihak yang lemah, ketika suara iman harus berhadapan dengan kekuasaan, Stefanus tidak mundur. Di ambang kematian karena dilempari batu, Stefanus tetap beriman dan tidak membalas. Ia justru melihat langit terbuka dan Tuhan Yesus berdiri menyambutnya. Ia berdoa mengampuni para pembunuhnya. Iman sejati tidak mundur saat diuji, ia tetap hidup beriman sampai akhir, bahkan mampu mengampuni.
2. Daud: Beriman dalam lindungan Tuhan (Mazmur 31:1-5,15-16). Di tengah krisis dan kejaran musuh, Daud berkata: "Pada-Mulah, ya TUHAN, aku berlindung... Masa hidupku ada di dalam tangan-Mu." Iman sejati tidak lari dari masalah, tetapi lari kepada Tuhan. Daud sadar bahwa ada dua tempat berlindung: pada Tuhan atau pada kekuatannya sendiri, pada Tuhan atau pada manusia, pada Tuhan atau pada harta. Daud memilih Tuhan. Ia percaya dan berlindung pada-Nya.
3. Petrus: Dikenali sebagai Bangsa yang Kudus (1 Petrus 2:2-10). Petrus menulis surat ini kepada jemaat yang tersebar dan tertekan. Mereka dicemooh, didiskriminasi, dan mengalami penderitaan karena iman mereka. Di tengah tekanan itu, Petrus mengingatkan mereka akan identitas sejati mereka di dalam pandangan Allah: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri." Camkanlah, dunia mungkin menolak kita, tetapi Tuhan mengklaim kita sebagai milik-Nya. Iman sejati tahu identitas sejatinya: kita milik Allah.
4. Tuhan Yesus berkata: Jangan Gelisah, Percayalah (Yohanes 14:1-14). Tuhan Yesus memberikan dua perintah (bukan saran) kepada murid-murid-Nya: "Jangan gelisah hatimu" dan "Percayalah." Mengapa mereka tidak perlu gelisah? Alasan pertama, karena Tuhan Yesus pergi menyediakan tempat bagi kita — kematian-Nya bukan akhir, tetapi awal dari persiapan tempat tinggal kekal bagi kita. Kedua, karena Tuhan Yesus akan kembali menjemput kita — kita tidak ditinggalkan selamanya. Ketiga, karena Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Bapa — "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (ayat 6). Iman sejati tidak gelisah, tetapi percaya pada janji Tuhan.
Kita telah membaca dan mendengar empat panggilan hidup beriman. Seperti Stefanus: memilih untuk beriman dan setia sampai akhir, sekalipun dunia menolakmu. Sorga menyambut orang-orang yang berani beriman pada Tuhan. Seperti Daud: Memilih untuk berlindung pada Tuhan di tengah krisis. Masa hidupmu ada di tangan Tuhan, bukan di tangan musuh. Seperti umat yang diingatkan Petrus: memilih untuk mengingat identitasmu sebagai umat yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah. Seperti murid-murid Yesus: mimilih untuk tidak gelisah, tetapi percaya. Kristus telah menyediakan tempat bagimu di rumah Bapa.
Mari kita saat ini memilih untuk berani hidup beriman kepada Tuhan Yesus. Karena masa hidup kita ada di tangan Tuhan, dan Dia tidak pernah mengecewakan.