Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 17 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 1:6-14; Mazmur 68:1-10, 32-35; 1 Petrus 4:12-14; 5:6-11; Yohanes 17:1-11
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Minggu Paskah ke – 7 ini gereja berada dalam masa yang sangat penting dalam kalender iman Kristen. Kita masih berada dalam suasana Paskah, merayakan kebangkitan Kristus, tetapi kita juga telah melewati peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan sedang menantikan Pentakosta, yaitu saat Roh Kudus dicurahkan kepada gereja. Dengan demikian, minggu ini menjadi masa penantian: Yesus telah naik ke surga, tetapi Roh Kudus belum turun. Masa ini adalah masa “di antara”, ketika para murid harus belajar berjalan bukan lagi dengan melihat Yesus secara langsung, melainkan dengan mempercayai janji-Nya.
Situasi itu tentu bukan situasi yang mudah bagi para murid. Mereka belum memahami sepenuhnya apa yang akan terjadi setelah Yesus naik ke surga. Mereka menghadapi ketidakpastian, ketakutan, dan kebingungan tentang masa depan mereka. Bahkan dalam Kisah Para Rasul 1:6, para murid masih bertanya kepada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka masih berharap pada pemulihan politik dan kejayaan duniawi. Namun Yesus mengarahkan perhatian mereka kepada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu janji Roh Kudus. Yesus mengajarkan bahwa tugas mereka bukan menentukan waktu Tuhan, melainkan mempersiapkan diri untuk dipakai Tuhan.
Karena itu, hal yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga menjadi sangat penting. Alkitab mencatat bahwa mereka tidak tercerai-berai dan tidak sibuk mencari kepentingan masing-masing. Sebaliknya, mereka berkumpul dalam doa. Kisah Para Rasul 1:14 mengatakan, “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama.” Di sinilah kita melihat gambaran gereja mula-mula: gereja yang berdoa, tekun menanti, dan hidup dalam kesatuan. Ternyata sebelum Roh Kudus dicurahkan, umat Tuhan terlebih dahulu dipersatukan dalam doa.
Mazmur 68 mengingatkan bahwa Allah adalah Allah yang hadir bagi umat-Nya yang lemah dan menanti pertolongan-Nya. Pemazmur menyebut Allah sebagai “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda.” Ini menunjukkan bahwa Allah tidak meninggalkan mereka yang rapuh dan penuh pergumulan. Dalam masa penantian, manusia sering merasa sendirian, lemah, dan kehilangan arah, tetapi justru pada saat itulah Allah bekerja memelihara umat-Nya. Bahkan Allah tidak hanya menyelamatkan secara pribadi, tetapi juga membentuk persekutuan. Karena itu gereja dipanggil menjadi tempat di mana orang-orang yang letih dan terluka dapat mengalami kasih dan penguatan Tuhan.
Dalam surat 1 Petrus, jemaat juga diingatkan agar tidak heran terhadap penderitaan dan tekanan hidup. Petrus berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Penantian sering kali melahirkan kecemasan, demikian juga gereja masa kini menghadapi banyak kekhawatiran: perubahan zaman, tekanan hidup, perpecahan, dan ketidakpastian masa depan. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa gereja dipanggil untuk tetap rendah hati dan percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Tuhan sendiri yang akan menguatkan dan meneguhkan umat-Nya.
Puncak dari semua bacaan hari ini terlihat dalam doa Yesus di Yohanes 17. Sebelum menghadapi penderitaan-Nya, Yesus berdoa bagi para murid-Nya supaya mereka tetap dipelihara dalam kesatuan. Yesus berkata, “Supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Kesatuan menjadi kerinduan hati Kristus bagi gereja-Nya. Dunia yang penuh perpecahan membutuhkan kesaksian gereja yang hidup dalam kasih dan kebersamaan. Sebab gereja yang bersatu akan menjadi saksi tentang kehadiran Kristus di tengah dunia.
Karena itu, Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar dari gereja mula-mula. Di tengah ketidakpastian dan penantian hidup, gereja dipanggil bukan untuk hidup dalam ketakutan atau perpecahan, melainkan untuk tekun berdoa, setia menanti waktu Tuhan, dan hidup dalam kesatuan. Sebab gereja yang berdoa bersama akan dikuatkan Tuhan, gereja yang menanti Tuhan akan dipimpin Roh Kudus, dan gereja yang hidup dalam kesatuan akan menjadi terang bagi dunia. Kiranya kita semua dimampukan menjadi umat yang terus berdoa, tekun menanti, dan hidup dalam kesatuan di dalam Kristus. Amin.
Pdt. Pramudya Hidayat