Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 1 Maret 2026
Bacaan Alkitab: Kejadian 12:1-4a; Mazmur 121; Roma 4:1-5,13-17; Yohanes 3:1-17
Melepaskan kemelekatan bukanlah perkara sederhana. Ada banyak hal yang secara perlahan kita jadikan sandaran hidup: rasa aman, kebiasaan lama, pencapaian, bahkan cara kita menghidupi iman. Tanpa disadari, hal-hal tersebut dapat menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita.
Panggilan Tuhan kepada Abraham menjadi titik awal perenungan ini. Tuhan memintanya untuk pergi dari negerinya dan meninggalkan segala yang selama ini menjadi pegangan hidupnya (Kej. 12:1). Abraham tidak mengetahui secara pasti apa yang menantinya. Ia melangkah bukan karena kepastian situasi, melainkan karena kepercayaan kepada Allah yang memanggilnya. Di situlah iman nyata: ketika kemelekatan dilepaskan.
Mazmur 121 menegaskan bahwa pertolongan sejati tidak berasal dari kekuatan yang terlihat, melainkan dari Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi (Mzm. 121:2). Pengakuan ini mengajak umat untuk memindahkan sandaran hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan yang setia menjaga.
Rasul Paulus, dalam Roma 4, mengingatkan bahwa Abraham dibenarkan bukan karena perbuatannya, melainkan karena imannya. Ini menegur kecenderungan manusia untuk melekat pada prestasi, termasuk prestasi rohani. Keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima dengan iman, bukan hasil usaha manusia.
Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa seseorang harus dilahirkan kembali untuk melihat Kerajaan Allah (Yoh. 3:3). Kelahiran baru menuntut keberanian untuk melepaskan cara hidup dan pemahaman lama, serta membuka diri terhadap karya Allah yang memperbarui.
Melalui firman Tuhan ini, kita diajak untuk kembali memeriksa apa yang selama ini kita genggam terlalu erat. Melepas kemelekatan berarti mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Sebab, di sanalah iman bertumbuh, dan kebebasan sejati ditemukan.