Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 25 Januari 2026
Bacaan Alkitab: Matius 20:20-28
Dalam Matius 20:20–28, kita mendengar kisah yang sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang ibu datang kepada Yesus membawa permintaan untuk anak-anaknya. Ia ingin mereka mendapatkan tempat yang baik, posisi yang terhormat. Tidak ada yang aneh dari permintaan ini. Setiap orang tua, setiap keluarga, tentu menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang mereka kasihi.
Namun Yesus menanggapi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak membahas soal posisi, jabatan, atau kedudukan. Yesus justru berbicara tentang melayani. Ia berkata bahwa yang ingin menjadi besar harus menjadi pelayan, dan yang ingin menjadi terkemuka harus menjadi hamba.
Perkataan ini penting untuk kita renungkan sebagai gereja yang hidup sebagai keluarga dan sekaligus hidup di zaman digital. Gereja bukan sekadar organisasi, tetapi persekutuan orang-orang yang dipanggil untuk saling memperhatikan, saling menopang, dan saling melayani. Di dalam keluarga, yang membuat relasi bertahan bukanlah siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang mau mengalah, mendengar, dan memikul tanggung jawab.
Dunia digital memberi kita banyak kemudahan. Kita bisa terhubung dengan cepat, berbagi informasi, dan tetap berkomunikasi meski berjauhan. Namun kemudahan ini juga membawa tantangan. Relasi bisa menjadi dangkal. Perhatian mudah terpecah. Kita bisa hadir secara online, tetapi tidak sungguh-sungguh hadir bagi sesama.
Yesus mengingatkan bahwa inti kehidupan bersama bukanlah soal terlihat atau tidak terlihat, tetapi soal sikap hati. Gereja, sebagai keluarga Allah, dipanggil untuk tetap setia pada cara Yesus: hadir untuk melayani. Bukan hanya dalam pertemuan ibadah, tetapi juga dalam keseharian: di rumah, di lingkungan kerja, dan juga dalam cara kita berelasi di ruang digital.
Yesus sendiri menjadi teladan. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya. Dari sini kita belajar bahwa gereja akan tetap hidup dan relevan bukan karena kecanggihan teknologi atau kuatnya struktur, tetapi karena kesediaan warganya untuk saling melayani dengan rendah hati.
Kiranya melalui firman ini, jemaat terus diingatkan bahwa di tengah perubahan zaman, panggilan gereja tetap sama: menjadi keluarga yang menghadirkan kasih, perhatian, dan pelayanan, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.