Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, Suatu hari, seorang pria paruh baya duduk sendirian di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Di tangannya ada sebuah ponsel yang berkali-kali ia tatap, seolah berharap ada pesan yang masuk. Namun layar itu tetap sunyi. Yang terbuka justru sebuah foto lama—foto keluarganya, diambil beberapa tahun silam, ketika senyum masih mudah hadir dan hidup terasa terasa lebih ringan. Hari itu ia baru saja menerima kabar dari dokter bahwa penyakit yang dideritanya tidak mudah disembuhkan.
Namun yang paling menggetarkan hatinya bukanlah kabar medis itu. Yang lebih dalam melukai perasaannya adalah kesadaran bahwa, di tengah hidup yang selama ini tampak berhasil—pekerjaan yang mapan, penghasilan yang cukup, dan pengakuan dari banyak orang—ia justru merasa kosong. Dengan suara hampir tak terdengar ia berkata, “Kalau semua ini tidak memberiku damai, lalu apa arti bahagia yang sesungguhnya?”
Saudara-saudari, pertanyaan itu adalah pertanyaan manusia sepanjang zaman. Kita hidup di dunia yang menawarkan banyak definisi kebahagiaan, namun sering kali meninggalkan manusia dalam kegelisahan. Firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk meninjau ulang pemahaman kita tentang bahagia, dan mendengarkan suara Yesus yang berkata: “Berbahagialah…”
Bacaan dari kitab Mikha membawa kita pada pengakuan iman yang jujur. Tuhan tidak menolak ibadah umat-Nya, tetapi Ia menolak ibadah yang berhenti pada ritual. Firman Tuhan berkata, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik.” Yang Tuhan kehendaki bukan sekadar korban, melainkan hidup yang diarahkan kepada-Nya: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Di sinilah kebahagiaan sejati mulai bertumbuh—bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan dan sesama.
Mazmur 15 menegaskan hal yang sama dengan mengajukan sebuah pertanyaan rohani yang mendalam: “TUHAN, siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” Jawabannya tidak berkaitan dengan kedudukan atau pencapaian, melainkan dengan integritas hidup. Hidup yang berkata benar, tidak menyakiti sesama, dan setia pada kebenaran. Mazmur ini mengajarkan bahwa kebahagiaan yang sejati bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang utuh dan jujur di hadirat Allah.
Rasul Paulus, dalam bacaan dari surat 1 Korintus, mengajak kita melangkah lebih jauh dengan memperkenalkan logika salib. Salib adalah simbol penderitaan dan kehinaan, namun justru di sanalah kuasa Allah dinyatakan. Dunia mengejar kekuatan, hikmat, dan kehormatan, tetapi Allah menyatakan keselamatan melalui jalan yang tampak lemah dan tidak terpandang. Kebahagiaan menurut iman Kristen bukanlah hasil dari keunggulan diri, melainkan buah dari penyerahan diri kepada kehendak Allah.
Injil Matius pasal 5 memperlihatkan puncak pengajaran ini. Ketika Yesus mengucapkan berbahagia, Ia tidak sedang menawarkan kenyamanan hidup, melainkan sebuah jalan. Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran. Semua ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati lahir ketika manusia menyadari ketergantungannya kepada Allah dan mengarahkan seluruh hidupnya kepada Kerajaan-Nya.
Saudara-saudari, kebahagiaan yang Yesus tawarkan bukan kebahagiaan yang instan atau dangkal. Ini adalah kebahagiaan yang bertumbuh dari dalam, yang memberi makna bahkan di tengah penderitaan. Kebahagiaan yang tidak selalu menghapus air mata, tetapi memberi harapan. Tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi membuat hidup layak dijalani.
Maka, melalui firman Tuhan hari ini, kita diajak untuk menata ulang arah hidup kita. Berbahagia yang benar bukanlah soal memiliki lebih banyak, melainkan hidup dengan arah yang benar. Hidup yang adil, setia, rendah hati, dan berakar pada kasih Allah.
Kiranya firman Tuhan ini menolong kita untuk tidak sekadar mengejar bahagia, tetapi dibentuk menjadi umat yang sungguh-sungguh berbahagia menurut kehendak Tuhan, sehingga hidup kita menjadi kesaksian tentang Kerajaan Allah di tengah dunia.