Penghujung tahun 2025 dan awal 2026 ditandai oleh sebuah suasana batin yang tidak ringan. Banyak orang hidup dalam kecemasan akan masa depan: ketidakpastian ekonomi, perubahan teknologi yang cepat, kekhawatiran akan lingkungan hidup, serta meningkatnya rasa kesepian di tengah kehidupan yang semakin individualistis. Secara lahiriah dunia tampak maju, tetapi secara batiniah banyak orang merasa gelap dan kehilangan arah. Dalam konteks inilah firman Tuhan hari ini berbicara dengan kuat: masa depan tidak diraih dengan mengandalkan terang buatan manusia, melainkan dengan berjalan bersama Sang Terang sejati, yaitu Kristus. Nabi Yeremia (Yer. 31:7–14) menyampaikan janji pemulihan kepada umat yang sedang berada dalam pembuangan. Masa depan Israel tampak suram, namun Tuhan berjanji untuk membawa mereka pulang, memulihkan kehidupan, dan mengganti ratap dengan sukacita. Pemulihan yang dijanjikan Tuhan bukan sekadar perubahan keadaan, melainkan pemulihan relasi dan martabat umat sebagai milik-Nya. Ini menegaskan bahwa masa depan umat Allah selalu berakar pada kesetiaan Tuhan, bukan pada situasi yang tampak. Mazmur 147 memperdalam keyakinan ini dengan menggambarkan Allah yang membangun kembali Yerusalem, menyembuhkan orang yang patah hati, dan memelihara ciptaan-Nya hingga ke hal-hal yang paling kecil. Allah yang mengatur bintang-bintang juga adalah Allah yang peduli pada luka batin manusia. Pujian dalam mazmur ini mengajak umat untuk melihat masa depan dengan iman, sebab hidup berada di dalam tangan Allah yang setia dan penuh belas kasihan. Rasul Paulus, dalam Efesus 1:3–14, membawa kita melangkah lebih jauh dengan menegaskan bahwa masa depan umat percaya telah diletakkan di dalam Kristus. Kita dipilih, diangkat menjadi anak-anak Allah, dan dimeteraikan oleh Roh Kudus sebagai jaminan warisan keselamatan. Masa depan bukanlah wilayah spekulasi yang menakutkan, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah yang pasti. Identitas sebagai anak-anak Allah memberi dasar yang kokoh untuk menjalani hidup di tengah dunia yang tidak menentu. Semua bacaan ini menemukan puncaknya dalam Injil Yohanes 1:1–18. Yohanes menyatakan bahwa Firman yang adalah Allah telah menjadi manusia dan hadir di tengah dunia sebagai Terang. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan tidak dapat dikalahkan oleh kegelapan. Inkarnasi Kristus menegaskan bahwa Allah tidak menjanjikan masa depan dari kejauhan, melainkan hadir secara nyata dalam sejarah manusia. Di dalam Kristus, masa depan memperoleh wajah: wajah kasih, pengharapan, dan hidup yang baru. Meraih masa depan bersama Sang Terang berarti memilih untuk hidup dalam terang Kristus hari ini. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang menghadirkan terang itu melalui kepedulian, penghiburan, dan kesaksian. Di tengah kecemasan zaman, umat Tuhan diajak untuk melangkah dengan iman, sebab masa depan tidak gelap bagi mereka yang berjalan bersama Terang dunia, Yesus Kristus.