Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 2 Maret 2025
Bacaan Alkitab: Keluaran 34:29-35; Mazmur 99; 2 Korintus 3:12 - 4:2; Lukas 9:28-43
Minggu ini merupakan Minggu Transfigurasi. Minggu Transfigurasi terletak pada hari Minggu sebelum memasuki rangkaian Masa Raya Paskah yang dimulai dari Rabu Abu. Secara harfiah, transfigurasi artinya perubahan bentuk atau rupa. Transfigurasi dialami oleh Yesus ketika Ia berada di atas gunung untuk berdoa. Pada masa itu naik ke atas gunung merupakan hal yang lazim dilakukan, karena di atas gunung mereka biasa beribadah, berdoa, atau berziarah. Di atas gunung tersebut Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, rupa wajah-Nya berubah dan jubah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.
Dalam kemuliaan-Nya Yesus hadir bersama dengan Musa dan Elia. Mengapa ada Musa dan Elia? Musa adalah orang yang membawa hukum Allah, sedangkan Elia adalah sang penegak kehendak Allah, dan Yesus datang untuk menggenapi janji Allah. Musa membelah Laut Teberau yang merupakan simbol batas Mesir sebagai wilayah perbudakan, Elia membelah Sungai Yordan simbol batas umat memasuki negeri perjanjian. Sementara Yesus kelak membelah tabir Allah ketika penyaliban-Nya terjadi yang merupakan simbol batas kekudusan Allah dan manusia.
Murid-murid Yesus yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes merupakan saksi yang melihat peristiwa transfigurasi. Peristiwa menakjubkan dan menggetaran hati itu membuat Petrus berinisiatif untuk mendirikan kemah bagi Yesus, Musa, dan Elia. Inisiatif ini lahir karena Petrus pun ingin menikmati perjumpaan tersebut lebih lama lagi. Sementara Petrus mengatakan demikian, datanglah awan menaungi mereka dan terdengarlah suara dari dalam awan itu dan berkata “Inilah Anak-Ku, pilihan-Ku, dengarkanlah Dia”, lalu murid-murid Yesus tidak melihat seorangpun, kecuali Yesus seorang diri. Seketika para murid terdiam dan tidak menceritakan kepada siapa pun mengenai apa yang telah mereka lihat.
Peristiwa Transfigurasi menunjukan kemuliaan dan kemahakuasaan Yesus, sekaligus mengawali jalan penderitaan yang akan ditempuh Yesus. Dalam peristiwa kemuliaan maupun penderitaan, para murid diminta untuk selalu mendengarkan suara Yesus dan menaatinya. Mendengarkan suara Yesus berarti percaya, fokus, taat, dan sungguh-sungguh melakukan apa yang diperintahkan. Mari, dengarkanlah suara Yesus.
Pdt. Erma P. Kristiyono